Senin, 12 November 2018

Mawarung Dan Nongkrong dalam Transformasi Budaya Pada Era Modern

Budaya masyarakat Banjar yang kental dengan segala kegiatan berdagang baik di lingkungan perkampungan, pasar, perkotaan sampai pada sampai pada perdagangan melalui jalur sungai sehingga muncul pasar terapung di Sungai Martapura diantaranya wilayah Muara Kuin dan Lok Baintan. Pasar terapung yaitu pasar yang berada di atas sungai, dengan perantara Jukung (Jung-jung) yang terbuat dari kayu sebagai wadah tempat berdagang para penjual aneka macam jenis barang seperti buah-buahan, sayur-sayuran, wadai (kue khas Banjar), peralatan-peralatan sehari-hari yang sederhana seperti lading, parang, dan sejenisnya akan tetapi tidak terlalu banyak jumlah yang perjual belikan.

Mengenal akan budaya mawarung masyarakat Banjar sendiri sangat tidak bisa lepas dari ciri masyarakat Banjar yang meluangkan waktu bersantai, karena karakteristik masyarakat Banjar ini terkenal sangat suka ngobrol (berbincang-bincang), oleh karena itu, selain mereka juga untuk menyambung silaturahmi antar warga, mawarung dalam definisinya adalah makan di warung atau sarapan di warung, Mawarung dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan sarapan di warung. mawarung ini salah satu budaya yang secara turun temurun dari masyarakat etnis Banjar di Kalimantan Selatan, mawarung ini biasanya dilakukan masyarakat pada pagi hari, biasanya untuk sarapan atau hanya sekedar minum kopi/the, tetapi juga sudah menjadi kebiasaan tidak hanya sekedar mengisi perut atau sarapan saja.

Warung-warung tempat berkumpulnya ini biasanya menyediakan bermacam variatif aneka makanan ataupun jajanan khas Banjar, seperti Nasi Kuning dengan lauknya antara lain Iwak 3H kata anak-anak biasanya (Iwak Haruan atau Gabus, Iwak Hayam atau Ayam, dan Iwak Hintalu atau Telur Rebus biasanya telur ayam),  Lontong, Katupat Karau, lalu ada macam-macam wadai/kue khas Banjar seperti Uuntuk, Apam Paranggi, Bingka dan lainnya. Kenapa bisa kita lihat ada berbagai macam makanan ringan hingga berat yang telah di wariskan oleh nenek moyang masyarakat Banjar.

Bagaimana mengenai hal-hal positif yang bisa dilihat dari budaya mawarung ini, dari segi perekonomian masyarakat mereka yang membuka warung ini atau keberadaan dari warung-warung ini bisa menjadi roda penggerak perekonomian di masyarakat sendiri, dari usaha masyarakat yang menitipkan wadai ke warung-warung, para penjual nasi kuning atau nasi bungkus ataupun bisa disebut dengan nasi kabuli ini juga sama. Disamping itu ditinjau dari segi sosial, yaitu masyarakat bisa melakukan interaksi sosial antar individu, menjalin silaturahmi antar masyarakat, hingga bisa saling bertukar informasi setiap harinya dari berbagai macam pandiran-pandiran (obrolan-obrolan) bisa masuk ke berbagai macam ranah seperti agama, politik, hokum dan lainnya. Dari segi kesehatan masyarakat Kalimantan Selatan tentunya sangat menyadari bahwa kegiatan sarapan sebelum berangkat ke Kantor atau ke ladang adalah keharusan, karena dari asupan makanan ini dapat menghasilkan energi untuk memulai pekerjaan dan membantu untuk tetap berkonsentrasi dengan baik saat bekerja. Jadi manfaat dari mawarung sendiri sangat banyak dari berbagai segi tersebut, walaupun masih banyak yg masih bisa di kupas.

Transformasi mawarung sekarang dalam masyakarat Banjar, berubah dalam perbincangan anak-anak muda yaitu Nongkrong, definisi dari nongkrong sendiri adalah Sebuah kegiatan jongkok sambil ngobrol gak jelas tujuannya. bisa memakan waktu sangat lama atau Duduk berkumpul-ria dan berbincang-bincang bersama teman-teman. biasanya dilakukan sambil minum kopi juga makan. Jadi secara garis besar mengenai mawarung dan nongkrong sendiri tidak terlalu jauh, dan berfokus kepada kegiatan ngobrol yang biasanya sambal minum dan makan, tetapi Nongkrong lebih kepada kopi tidak hanya teh saja, selain itu perbedaannya terletak pada tempat berlangsungnya kegiatan tersebut, ketika mawarung lebih ketempat yang sederhana juga tradisional dibandingkan dengan nongkrong atau istilah lainnya adalah kongkow di tempat-tempat yang lebih modern seperti Cafee, Minimarket-minimarket ritel besar (seperti 7Eleven (Seven Eleven), Lawson, Indomaret, Alfamart, Alfamidi, Family Mart dan lainnya) yang menyediakan berbagai macam minuman dan makanan modern, selain itu juga ketersediaan akan tekonologi untuk para milenial yang menikmati kegiatan nongkrong ini.

Nongkrong sendiri masuk kedalam salah satu artikel dari New York Times yang terbit pada 28 Mei 2012 ditulis oleh Sara Schonhardt dengan salah satu pendapat yang saya kutip yaitu “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that there is a word for sitting, talking and generally doing nothing: nongkrong.” Bisa dikatakan bahwa nongkrong adalah sebuah kebiasaan masyarakat kita dalam mengisi waktu luang dan liburannya, karena nongkrong adalah paket liburan paling lengkap yang sudah banyak di masyarakat perkotaan ketika mengisi liburan mereka.

Daftar Pustaka:
Ayu Hernanti. 24 Juli 2016. Tradisi unik “Mawarung”; salah satu cara warga Banua menyambung tali persaudaraan. Diakses dari web https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/07/24/tradisi-unik-mawarung-salah-satu-cara-warga-banua-menyambung-tali-persaudaraan.

M. Suriansyah Ideham, dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Balitbangda Prov. Kalimantan Selatan dan Penerbit Ombak, Yogyakarta.

Sara Schonhardt. 28 Mei 2012. 7-Eleven Finds a Niche by Adapting to Indonesian Ways. Diakses dari web https://www.nytimes.com/2012/05/29/business/global/29iht-stores29.html.

Urang Banjar dan Budaya Sungai

Menurut M. Idwar Saleh, proses sejarah dalam perjalanan pembentukan khas kebudayaan sungai kelompok Banjar ini adalah akibat lingkungan alam Kalimantan Selatan yang penuh sungai, adaptasi lingkungan oleh tiap kelompok, sifat masyarakat yang datang dari generasi ke generasi dan kejiwaan grup yang dimunculkan sejarahnya. Kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Urang Banjar yang tinggal di Banjarmasin adalah kebudayaan sungai dimana hampir segala aktifitas masyarakatnya berlangsung di atas sungai, dimana terlihat sampai sekarang masih bergeraknya perekonomian masyarakat dengan Pasar Terapung baik yang di Muara Kuin ataupun di Lok Baintan, selain itu juga aktifitas transportasi sungai dengan menggunakan jukung atau disebut perahu.

Urang Banjar adalah nama penduduk yang mendiami daerah sepanjang pesisir Kalimantan Selatandan menggunakan Bahasa Banjar sebagai penutur bahasa sehari-hari. Perpaduan kultural antara setidaknya terdiri atas etnik Melayu sebagai etnik dominan, kemudian ditambah dengan unsur Bukit, Ngaju dan Manyaan. Urang Banjar terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan wilayahnya, yaitu Urang Banjar Kuala yang mendiami sekitar daerah Banjarmasin dan sekitarnya, Urang Banjar Pahuluan yang mendiami daerah Hulu Sungai dari Tapin hingga Amuntai dan Urang Banjar Batang Banyu yang banyak mendiami dari mauar sungai Nagara sampai dengan Tabalong.
Budaya masyarakat Banjar khususnya Urang Banjar Kuala adalah Budaya sungai, Urang Banjar yang sejak dari zaman Kerajaan Dipa menggunakan jalur air sebagai sarana ekonomi, transportasi dan lainnya. Lambat laun kebudayaan ini mulai terusik ketika di mulainya pembangunan darat di Kalimantan. Kota Banjarmasin yang dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai, sudah menjadi ciri khasnya dengan banyaknya sungai-sungai baik yang besar ataupun kecil yang mengalir.

Konsep kebudayaan yang dilahirkan oleh masyarakat Banjar karena lingkungan sekitarnya ini menghasilkan kebudayaan air khususnya sungai dari keadaan morfologi tempat tinggalnya. Salah satu hasil dari kebudayaan sungai ini adalah Pasar Terapung atau Pasar Apung di atas sungai Martapura yang salah satunya berada di kota Banjarmasin di daerah Muara Kuin, Pasar Terapung adalah pasar yang dimana para pedagangnya melakukan aktivitas perdagangannya dengan menggunakan perahu atau jukung, ataupun kelotok baik sebagai alat transportasi menuju tempat berkumpul ataupun sarana mengangkut barang dagangan, selain itu jukung-jukung itu juga digunakan para wisatawan lokal ataupun mancanegara menuju pasar dari pelabuhan-pelabuhan seperti masjid Sultan Suriansyah ataupun didepan Makam Sultan Suriansyah daerah Pangeran.

Keterampilan membuat perahu-perahu tradisional, kemudi, Kapal bermotor merupakan sebuah teknologi pelayaran tradisional dan modern yang dimana merupakan memang keahlian orang-orang yang berbudayakan tinggal di daerah perairan (sungai, laut ataupun danau), sampai tahun 1950-an keahlian dalam keluarga Kampung Tambak Bitin, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menghasilkan perahu-perahu dalam jenis dan bentuk sesuai dengan keperluannya: transportasi manusia (tambangan), maupun transportasi barang-barang dagangan dan hasil-hasil pertanian (parahan, babanciran, perahu gundul, undaan, pangkuh, bagiwas). Perahu-perahu yang dikayuh atau ditajak tenaga manusia ini.

Teknologi yang masuk sejak tahun 1950-an itu, memekanis alat-alat transportasi sungai. Renovasi mesin pompa air menjadi mesin kelotok, menyisihkan banyak dari perahu-perahu tradisional tersebut. Ahli-ahli perahu Nagara ini, kemudian melanjutkan bakat dan keterampilan mereka ke industri perkapalan bermotor. Badan kapal-kapal motor yang menjelajahi pesisir, maupun yang laik laut yang menghubungkan pulau ke pulau, kapal-kapal nelayan laut, dibuat di galangan-galangan di tepi-tepi Sungai Antasan-bagi yang tonase kecil, Sungai Martapura, Sungai Alalak, Sungai Barito bagi yang lebih besar. Mesin-mesin pengerak masih didatangkan dari luar. Budaya sungai masih mendominasi cara hidup masyarakat. Sungai dan perahu memberikan bentuk pedagangan antar penduduk khususnya yang bermukim di tepi dan di lingkungan sekitar sungai.

Daftar Pustaka:
  • M. Idwar Saleh. 1991. Sejarah Lokal Kerajaan Banjarmasin Dan Kebudayaan Sungainya. Buletin Kayuh Baimbai. MSI (Masyarakat Sejarah Indonesia Cabang Banjar) Kalimantan Selatan.
  • Sjarifuddin, dkk. 2003. Sejarah Banjar. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
  • M. Suriansyah Ideham, dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Balitbangda Prov. Kalimantan Selatan dan Penerbit Ombak, Yogyakarta.