Menurut
M. Idwar Saleh, proses sejarah dalam perjalanan pembentukan khas kebudayaan
sungai kelompok Banjar ini adalah akibat lingkungan alam Kalimantan Selatan
yang penuh sungai, adaptasi lingkungan oleh tiap kelompok, sifat masyarakat
yang datang dari generasi ke generasi dan kejiwaan grup yang dimunculkan
sejarahnya. Kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Urang Banjar
yang tinggal di Banjarmasin adalah kebudayaan sungai dimana hampir segala
aktifitas masyarakatnya berlangsung di atas sungai, dimana terlihat sampai
sekarang masih bergeraknya perekonomian masyarakat dengan Pasar Terapung baik
yang di Muara Kuin ataupun di Lok Baintan, selain itu juga aktifitas
transportasi sungai dengan menggunakan jukung atau disebut perahu.
Urang
Banjar adalah nama penduduk yang mendiami daerah sepanjang pesisir Kalimantan
Selatandan menggunakan Bahasa Banjar sebagai penutur bahasa sehari-hari.
Perpaduan kultural antara setidaknya terdiri atas etnik Melayu sebagai etnik
dominan, kemudian ditambah dengan unsur Bukit, Ngaju dan Manyaan. Urang Banjar
terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan wilayahnya, yaitu Urang Banjar Kuala
yang mendiami sekitar daerah Banjarmasin dan sekitarnya, Urang Banjar Pahuluan
yang mendiami daerah Hulu Sungai dari Tapin hingga Amuntai dan Urang Banjar
Batang Banyu yang banyak mendiami dari mauar sungai Nagara sampai dengan
Tabalong.
Budaya
masyarakat Banjar khususnya Urang Banjar Kuala adalah Budaya sungai, Urang
Banjar yang sejak dari zaman Kerajaan Dipa menggunakan jalur air sebagai sarana
ekonomi, transportasi dan lainnya. Lambat laun kebudayaan ini mulai terusik
ketika di mulainya pembangunan darat di Kalimantan. Kota Banjarmasin yang
dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai, sudah menjadi ciri khasnya dengan
banyaknya sungai-sungai baik yang besar ataupun kecil yang mengalir.
Konsep
kebudayaan yang dilahirkan oleh masyarakat Banjar karena lingkungan sekitarnya
ini menghasilkan kebudayaan air khususnya sungai dari keadaan morfologi tempat
tinggalnya. Salah satu hasil dari kebudayaan sungai ini adalah Pasar Terapung
atau Pasar Apung di atas sungai Martapura yang salah satunya berada di kota
Banjarmasin di daerah Muara Kuin, Pasar Terapung adalah pasar yang dimana para
pedagangnya melakukan aktivitas perdagangannya dengan menggunakan perahu atau jukung,
ataupun kelotok baik sebagai alat transportasi menuju tempat berkumpul ataupun
sarana mengangkut barang dagangan, selain itu jukung-jukung itu juga digunakan
para wisatawan lokal ataupun mancanegara menuju pasar dari pelabuhan-pelabuhan
seperti masjid Sultan Suriansyah ataupun didepan Makam Sultan Suriansyah daerah
Pangeran.
Keterampilan
membuat perahu-perahu tradisional, kemudi, Kapal bermotor merupakan sebuah
teknologi pelayaran tradisional dan modern yang dimana merupakan memang
keahlian orang-orang yang berbudayakan tinggal di daerah perairan (sungai, laut
ataupun danau), sampai tahun 1950-an keahlian dalam keluarga Kampung Tambak
Bitin, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menghasilkan perahu-perahu dalam
jenis dan bentuk sesuai dengan keperluannya: transportasi manusia (tambangan),
maupun transportasi barang-barang dagangan dan hasil-hasil pertanian (parahan,
babanciran, perahu gundul, undaan, pangkuh, bagiwas). Perahu-perahu yang
dikayuh atau ditajak tenaga manusia ini.
Teknologi
yang masuk sejak tahun 1950-an itu, memekanis alat-alat transportasi sungai.
Renovasi mesin pompa air menjadi mesin kelotok, menyisihkan banyak dari
perahu-perahu tradisional tersebut. Ahli-ahli perahu Nagara ini, kemudian
melanjutkan bakat dan keterampilan mereka ke industri perkapalan bermotor.
Badan kapal-kapal motor yang menjelajahi pesisir, maupun yang laik laut yang
menghubungkan pulau ke pulau, kapal-kapal nelayan laut, dibuat di
galangan-galangan di tepi-tepi Sungai Antasan-bagi yang tonase kecil, Sungai
Martapura, Sungai Alalak, Sungai Barito bagi yang lebih besar. Mesin-mesin
pengerak masih didatangkan dari luar. Budaya sungai masih mendominasi cara
hidup masyarakat. Sungai dan perahu memberikan bentuk pedagangan antar penduduk
khususnya yang bermukim di tepi dan di lingkungan sekitar sungai.
Daftar Pustaka:
- M. Idwar Saleh. 1991. Sejarah Lokal Kerajaan Banjarmasin Dan Kebudayaan Sungainya. Buletin Kayuh Baimbai. MSI (Masyarakat Sejarah Indonesia Cabang Banjar) Kalimantan Selatan.
- Sjarifuddin, dkk. 2003. Sejarah Banjar. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
- M. Suriansyah Ideham, dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Balitbangda Prov. Kalimantan Selatan dan Penerbit Ombak, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar