Senin, 12 November 2018

Urang Banjar dan Budaya Sungai

Menurut M. Idwar Saleh, proses sejarah dalam perjalanan pembentukan khas kebudayaan sungai kelompok Banjar ini adalah akibat lingkungan alam Kalimantan Selatan yang penuh sungai, adaptasi lingkungan oleh tiap kelompok, sifat masyarakat yang datang dari generasi ke generasi dan kejiwaan grup yang dimunculkan sejarahnya. Kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan khususnya Urang Banjar yang tinggal di Banjarmasin adalah kebudayaan sungai dimana hampir segala aktifitas masyarakatnya berlangsung di atas sungai, dimana terlihat sampai sekarang masih bergeraknya perekonomian masyarakat dengan Pasar Terapung baik yang di Muara Kuin ataupun di Lok Baintan, selain itu juga aktifitas transportasi sungai dengan menggunakan jukung atau disebut perahu.

Urang Banjar adalah nama penduduk yang mendiami daerah sepanjang pesisir Kalimantan Selatandan menggunakan Bahasa Banjar sebagai penutur bahasa sehari-hari. Perpaduan kultural antara setidaknya terdiri atas etnik Melayu sebagai etnik dominan, kemudian ditambah dengan unsur Bukit, Ngaju dan Manyaan. Urang Banjar terbagi menjadi 3 kelompok berdasarkan wilayahnya, yaitu Urang Banjar Kuala yang mendiami sekitar daerah Banjarmasin dan sekitarnya, Urang Banjar Pahuluan yang mendiami daerah Hulu Sungai dari Tapin hingga Amuntai dan Urang Banjar Batang Banyu yang banyak mendiami dari mauar sungai Nagara sampai dengan Tabalong.
Budaya masyarakat Banjar khususnya Urang Banjar Kuala adalah Budaya sungai, Urang Banjar yang sejak dari zaman Kerajaan Dipa menggunakan jalur air sebagai sarana ekonomi, transportasi dan lainnya. Lambat laun kebudayaan ini mulai terusik ketika di mulainya pembangunan darat di Kalimantan. Kota Banjarmasin yang dijuluki sebagai Kota Seribu Sungai, sudah menjadi ciri khasnya dengan banyaknya sungai-sungai baik yang besar ataupun kecil yang mengalir.

Konsep kebudayaan yang dilahirkan oleh masyarakat Banjar karena lingkungan sekitarnya ini menghasilkan kebudayaan air khususnya sungai dari keadaan morfologi tempat tinggalnya. Salah satu hasil dari kebudayaan sungai ini adalah Pasar Terapung atau Pasar Apung di atas sungai Martapura yang salah satunya berada di kota Banjarmasin di daerah Muara Kuin, Pasar Terapung adalah pasar yang dimana para pedagangnya melakukan aktivitas perdagangannya dengan menggunakan perahu atau jukung, ataupun kelotok baik sebagai alat transportasi menuju tempat berkumpul ataupun sarana mengangkut barang dagangan, selain itu jukung-jukung itu juga digunakan para wisatawan lokal ataupun mancanegara menuju pasar dari pelabuhan-pelabuhan seperti masjid Sultan Suriansyah ataupun didepan Makam Sultan Suriansyah daerah Pangeran.

Keterampilan membuat perahu-perahu tradisional, kemudi, Kapal bermotor merupakan sebuah teknologi pelayaran tradisional dan modern yang dimana merupakan memang keahlian orang-orang yang berbudayakan tinggal di daerah perairan (sungai, laut ataupun danau), sampai tahun 1950-an keahlian dalam keluarga Kampung Tambak Bitin, Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan menghasilkan perahu-perahu dalam jenis dan bentuk sesuai dengan keperluannya: transportasi manusia (tambangan), maupun transportasi barang-barang dagangan dan hasil-hasil pertanian (parahan, babanciran, perahu gundul, undaan, pangkuh, bagiwas). Perahu-perahu yang dikayuh atau ditajak tenaga manusia ini.

Teknologi yang masuk sejak tahun 1950-an itu, memekanis alat-alat transportasi sungai. Renovasi mesin pompa air menjadi mesin kelotok, menyisihkan banyak dari perahu-perahu tradisional tersebut. Ahli-ahli perahu Nagara ini, kemudian melanjutkan bakat dan keterampilan mereka ke industri perkapalan bermotor. Badan kapal-kapal motor yang menjelajahi pesisir, maupun yang laik laut yang menghubungkan pulau ke pulau, kapal-kapal nelayan laut, dibuat di galangan-galangan di tepi-tepi Sungai Antasan-bagi yang tonase kecil, Sungai Martapura, Sungai Alalak, Sungai Barito bagi yang lebih besar. Mesin-mesin pengerak masih didatangkan dari luar. Budaya sungai masih mendominasi cara hidup masyarakat. Sungai dan perahu memberikan bentuk pedagangan antar penduduk khususnya yang bermukim di tepi dan di lingkungan sekitar sungai.

Daftar Pustaka:
  • M. Idwar Saleh. 1991. Sejarah Lokal Kerajaan Banjarmasin Dan Kebudayaan Sungainya. Buletin Kayuh Baimbai. MSI (Masyarakat Sejarah Indonesia Cabang Banjar) Kalimantan Selatan.
  • Sjarifuddin, dkk. 2003. Sejarah Banjar. Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
  • M. Suriansyah Ideham, dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya. Balitbangda Prov. Kalimantan Selatan dan Penerbit Ombak, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar