Budaya
masyarakat Banjar yang kental dengan segala kegiatan berdagang baik di
lingkungan perkampungan, pasar, perkotaan sampai pada sampai pada perdagangan
melalui jalur sungai sehingga muncul pasar terapung di Sungai Martapura
diantaranya wilayah Muara Kuin dan Lok Baintan. Pasar terapung yaitu pasar yang
berada di atas sungai, dengan perantara Jukung
(Jung-jung) yang terbuat dari kayu sebagai wadah tempat berdagang para penjual
aneka macam jenis barang seperti buah-buahan, sayur-sayuran, wadai (kue khas Banjar),
peralatan-peralatan sehari-hari yang sederhana seperti lading, parang, dan
sejenisnya akan tetapi tidak terlalu banyak jumlah yang perjual belikan.
Mengenal
akan budaya mawarung masyarakat Banjar sendiri sangat tidak bisa lepas dari
ciri masyarakat Banjar yang meluangkan waktu bersantai, karena karakteristik
masyarakat Banjar ini terkenal sangat suka ngobrol (berbincang-bincang), oleh
karena itu, selain mereka juga untuk menyambung silaturahmi antar warga,
mawarung dalam definisinya adalah makan di warung atau sarapan di warung,
Mawarung dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan sarapan di warung.
mawarung ini salah satu budaya yang secara turun temurun dari masyarakat etnis
Banjar di Kalimantan Selatan, mawarung ini biasanya dilakukan masyarakat pada
pagi hari, biasanya untuk sarapan atau hanya sekedar minum kopi/the, tetapi
juga sudah menjadi kebiasaan tidak hanya sekedar mengisi perut atau sarapan
saja.
Warung-warung
tempat berkumpulnya ini biasanya menyediakan bermacam variatif aneka makanan
ataupun jajanan khas Banjar, seperti Nasi Kuning dengan lauknya antara lain
Iwak 3H kata anak-anak biasanya (Iwak
Haruan atau Gabus, Iwak Hayam
atau Ayam, dan Iwak Hintalu atau Telur
Rebus biasanya telur ayam), Lontong,
Katupat Karau, lalu ada macam-macam wadai/kue khas Banjar seperti Uuntuk, Apam
Paranggi, Bingka dan lainnya. Kenapa bisa kita lihat ada berbagai macam makanan
ringan hingga berat yang telah di wariskan oleh nenek moyang masyarakat Banjar.
Bagaimana
mengenai hal-hal positif yang bisa dilihat dari budaya mawarung ini, dari segi
perekonomian masyarakat mereka yang membuka warung ini atau keberadaan dari
warung-warung ini bisa menjadi roda penggerak perekonomian di masyarakat
sendiri, dari usaha masyarakat yang menitipkan wadai ke warung-warung, para
penjual nasi kuning atau nasi bungkus ataupun bisa disebut dengan nasi kabuli ini juga sama. Disamping itu
ditinjau dari segi sosial, yaitu masyarakat bisa melakukan interaksi sosial
antar individu, menjalin silaturahmi antar masyarakat, hingga bisa saling
bertukar informasi setiap harinya dari berbagai macam pandiran-pandiran
(obrolan-obrolan) bisa masuk ke berbagai macam ranah seperti agama, politik,
hokum dan lainnya. Dari segi kesehatan masyarakat Kalimantan Selatan tentunya
sangat menyadari bahwa kegiatan sarapan sebelum berangkat ke Kantor atau ke
ladang adalah keharusan, karena dari asupan makanan ini dapat menghasilkan energi
untuk memulai pekerjaan dan membantu untuk tetap berkonsentrasi dengan baik
saat bekerja. Jadi manfaat dari mawarung sendiri sangat banyak dari berbagai
segi tersebut, walaupun masih banyak yg masih bisa di kupas.
Transformasi
mawarung sekarang dalam masyakarat Banjar, berubah dalam perbincangan anak-anak
muda yaitu Nongkrong, definisi dari nongkrong sendiri adalah Sebuah kegiatan
jongkok sambil ngobrol gak jelas tujuannya. bisa memakan waktu sangat lama atau
Duduk berkumpul-ria dan berbincang-bincang bersama teman-teman. biasanya
dilakukan sambil minum kopi juga makan. Jadi secara garis besar mengenai
mawarung dan nongkrong sendiri tidak terlalu jauh, dan berfokus kepada kegiatan
ngobrol yang biasanya sambal minum dan makan, tetapi Nongkrong lebih kepada
kopi tidak hanya teh saja, selain itu perbedaannya terletak pada tempat
berlangsungnya kegiatan tersebut, ketika mawarung lebih ketempat yang sederhana
juga tradisional dibandingkan dengan nongkrong atau istilah lainnya adalah
kongkow di tempat-tempat yang lebih modern seperti Cafee, Minimarket-minimarket
ritel besar (seperti 7Eleven (Seven Eleven), Lawson, Indomaret, Alfamart,
Alfamidi, Family Mart dan lainnya) yang menyediakan berbagai macam minuman dan
makanan modern, selain itu juga ketersediaan akan tekonologi untuk para
milenial yang menikmati kegiatan nongkrong ini.
Nongkrong
sendiri masuk kedalam salah satu artikel dari New York Times yang terbit pada
28 Mei 2012 ditulis oleh Sara Schonhardt dengan salah satu pendapat yang saya
kutip yaitu “In many ways, the convenience store’s evolution was a given in a
country like Indonesia, where the penchant for hanging out runs so deep that
there is a word for sitting, talking and generally doing nothing: nongkrong.”
Bisa dikatakan bahwa nongkrong adalah sebuah kebiasaan masyarakat kita dalam
mengisi waktu luang dan liburannya, karena nongkrong adalah paket liburan
paling lengkap yang sudah banyak di masyarakat perkotaan ketika mengisi liburan
mereka.
Daftar
Pustaka:
Ayu
Hernanti. 24 Juli 2016. Tradisi unik “Mawarung”;
salah satu cara warga Banua menyambung tali persaudaraan. Diakses dari web
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/07/24/tradisi-unik-mawarung-salah-satu-cara-warga-banua-menyambung-tali-persaudaraan.
M. Suriansyah Ideham, dkk. 2015. Urang Banjar dan Kebudayaannya.
Balitbangda Prov. Kalimantan Selatan dan Penerbit Ombak, Yogyakarta.
Sara
Schonhardt. 28 Mei 2012. 7-Eleven Finds a
Niche by Adapting to Indonesian Ways. Diakses dari web
https://www.nytimes.com/2012/05/29/business/global/29iht-stores29.html.